Mahasiswa Podi Manajemen Bisnis Universitas Darussalam Gontor (UNIDA) yang terdiri dari Muhammad Syahrul Pakaya (2016), Alvian Surya Fernando (2016), dan Chicho Indra Dundri (2016) Mereka mengikuti perogram pengabdian Masyarakat yang diselenggarakan oleh YOU CAN EMPOWER

YOUCAN (Youth Center to Act for Nation) adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran anak muda akan pentingnya partisipasi mereka dalam kemajuan bangsa. YOUCAN berkomitmen untuk memberdayakan para pemimpin muda yang memiliki hati dan visi guna memberi kontribusi bagi bangsa dan negara Indonesia.

YOUCAN EMPOWER adalah program pengabdian masyarakat lintas disiplin yang terbuka bagi pemuda guna memfasilitasi pemuda yang berkomitmen untuk mengembangkan diri dalam pemberdayaan masyarakat dan memberikan kontribusi positif dan nyata bagi masyarakat, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Proses perijinan program telah dilakukan oleh pihak YOUCAN sehingga peserta dapat langsung melakukan pengabdian masyarakat di lokasi penerjunan. Terdapat 4 lokasi penerjunan, diantaranya: Lebak Muncang, Jawa Barat; Lombok, NTB; Labuan Bajo, NTT; dan Raja Ampat, Papua Barat.

Lokasi pengabdian masyarakat di Raja Ampat, Papua Barat, bertempat di Desa Saonek, Waigeo Selatan. Untuk menuju desa ini, diperlukan waktu perjalanan sekitar 2-3 jam dari Sorong ke Waisai, dengan menggunakan kapal feri dan kemudian menyebrang lagi dari Waisai ke Saonek menggunakanl ong boat dengan waktu tempuh sekitar 30-45 menit. Penyebrangan dari Sorong ke Waisai hanya ada 2 kali dalam seminggu, sedangkan dari Waisai ke Saonek ada setiap hari.. Desa ini tergolong rawan bencana, sebab keadaan desa di tengah lautan. Semisalkan ada gelombang tsunami, desa ini akan tersapu ombak.

Desa Saonek memiliki sekitar 105 KK. Setiap rumah telah memiliki sumur sebagai sumber air bersih, namun kondisi airnya berkapur, dan kebanyakan sumur tidak memenuhi standar kesehatan. Desa ini dulunya adalah pusat pemerintahan, sehingga infrakstrukturnya tergolong cukup baik. Bangunan polsek, KUA, perpustakaan, puskesmas, pos koramil, masjid, gereja, dan lainnya sudah ada. Namun, setelah pusat pemerintahan berpindah ke pulau lainnya, infrastruktur dan sarana yang sudah ada tidak terawat. Puskesmas Saonek mulai terurus karena akan diadakan akreditasi, sudah ada staf yang tinggal tetap, walaupun dokter hanya seminggu sekali mengunjungi daerah tersebut. Hanya ada satu dokter umum di puskesmas ini dan bertanggungjawab juga ke daerah lain di dekat pulau ini, yang masih wilayah kerja dari Puskemas Saonek. Puskesmas ini telah dikunjungi oleh Dirjen Kesehatan Nasional pada tahun 2015, dan akan diakreditasi pada tahun ini.

Mayoritas warga Desa Saonek berprofesi sebagai nelayan, sehingga akses terhadap makanan hasil laut cukup tinggi, namun akses terhadap sayur dan buah kurang. Sayuran yang banyak ditemukan adalah sayuran hijau, seperti kangkung, bayam, dan daun singkong. Buah yang terjangkau adalah pisang dan pepaya, yang kebanyakan tumbuh di pekarangan rumah. Masing sangat sedikit toko kelontong di pulau ini, masih sedikit pula orang yang berjualan makanan. Untuk memenuhi kebutuhannya, mayoritas penduduk Desa Saonek harus menaiki perahu dan membeli keperluannya di pulau seberang, Waisai, dengan waktu sekitar 30 menit. Di Desa Saonek juga telah terdapat dua infrastruktur pendidikan, yakni satu Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Menurut pengalaman Syahru Pakaya sebagai salah satu peserta pengabdian masyrakat, pendidikan tertinggi baru sebatas SMA-sederajat, itupun mereka harus pergi ke lain pulau, yakni Waisai atau langsung ke Sorong untuk dapat menempuh pendidikan SMA. Sudah ada perpustakaan bagi pelajar di Desa Saonek, namun pengelolaannya juga belum memadai karena tidak ada sumber daya, sehingga perpustakaan terbengkalai. Masyarakat Saonek berbahasa Indonesia dengan sangat fasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.