Cara Mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Keutamaannya

Cara Mengkhatamkan Al-Qur’an beserta Keutamaannya

Ramadhan merupakan bulan suci kaum muslimin, bulan penuh keistimewaan yang diiringi dengan segunung berkah, dinaungi oleh ampunan ampunan yang tiada terkira, bulan yang dipenuhi dengan Rahmat dan hidayah Allah SWT.

Bulan suci Ramadhan layaknya sebuah sekolah elt khusus dengan pendidikan dan pengajaran yang tinggi, yang mengajarkan nilai-nilai kehidupan yang mulia dan bimbingan perilaku yang mencontohkan Sunnah Rasulullah SAW. Sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil)” QS. (Al Baqarah : 185).

Keutamaan membaca Alquran di bulan Ramadhan

Kita dianjurkan untuk banyak beribadah kepada Allah SWT terutama di bulan Ramadhan, salah satu ibadah nya ialah membaca Alquran sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan datang di hari kiamat memberi syafaat kepada pembacanya” (Imam Muslim, Shahih Muslim, Beirut: Dar Ihya’ Ihya’ al-Turats al-Arabi, tt, juz 1, hal. 553).

Allah SWT berfirman, “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan (membaca) petunjuk Allah (Al-quran). Ingatlah, hanya dengan (membaca) petunjuk Allah (Al-quran), hati menjadi tenteram.” (QS ar-Ra’du: 28).

Untuk memperkuat pendapatnya itu Ibnu al-Qashih mengutip hadits Nabi:

من شفع له القرآن يوم القيامة نجا

“Barangsiapa yang mendapatkan syafaat dari Al-Qur’an, maka ia akan selamat” (Ibnu al-Qashih, Siraj al-Qari’ wa Tidzkar al-Muqri’ al-Muntahi, Mesir, Mustafa al-Halabi, tt, hal, 6).

مَنْ قَرَأَ بِمِائَةِ آيَةٍ فِى لَيْلَةٍ كُتِبَ لَهُ قُنُوتُ لَيْلَةٍ

“Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala shalat sepanjang malam” ( HR. Ahmad dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468).

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan “alif lam mim” satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf” ( HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469).

Sering kali ketika datang bulan suci Ramadhan, banyak dari kaum muslimin yang berusaha untuk mengkhatamkan Al-Qur’an. Meskipun itu adalah amalan ibadah dianjurkan, namun hal itu memiliki batasan yang perlu diperhatikan saat akan mengkhatamkannya.Sebagaimana perkataan Rasulullah SAW , melarang untuk mengkhatamkan Al-Qur’an dalam kurun waktu yang terlalu cepat sehingga terburu-buru saat membacanya dan menyebabkan tidak khusyuk dan menghayati makna yang terkandung di dalam Al Qur’an. Dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Yang mahir membaca Al-quran bersama malaikat yang terhormat dan yang membaca Al-quran sedangkan ia terbata-bata serta mengalami kesulitan, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Cara mengkhatamkan Al-Qur’an

Untuk mengkhatamkan Al-Qur’an sekali atau beberapa kali dalam bulan Ramadhan dengan metode yang mudah yaitu, membaca Alquran setiap waktu sholat atau membuat target perharinya.

Mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dengan kurun waktu sebulan bisa membaca Alquran di setiap waktu sholat sebagai berikut:

  1. Waktu sholat Subuh membaca 4 halaman
  2. Waktu sholat Zhuhur membaca 4 halaman
  3. Waktu sholat ‘Ashar membaca 4 halaman
  4. Waktu sholat Maghrib membaca 4 halaman
  5. Waktu sholat ‘Isya membaca 4 halaman

Mengkhatamkan Al-Qur’an 2 (dua) kali dengan kurun waktu sebulan bisa membaca Alquran di setiap waktu sholat sebagai berikut:

  1. Waktu sholat Subuh membaca 8 halaman
  2. Waktu sholat Zhuhur membaca 8 halaman
  3. Waktu sholat ‘Ashar membaca 8 halaman
  4. Waktu sholat Maghrib membaca 8 halaman
  5. Waktu sholat ‘Isya membaca 8 halaman

Mengkhatamkan Al-Qur’an 3 (tiga) kali dengan kurun waktu sebulan bisa membaca Alquran di setiap waktu sholat sebagai berikut:

  1. Waktu sholat Subuh membaca 12 halaman
  2. Waktu sholat Zhuhur membaca 12 halaman
  3. Waktu sholat ‘Ashar membaca 12 halaman
  4. Waktu sholat Maghrib membaca 12 halaman
  5. Waktu sholat ‘Isya membaca 12 halaman

Jika saudara mempunyai waktu luang untuk membaca Al-Qur’an bisa dengan metode target perharinya yaitu, Membaca Alquran setiap harinya sebanyak 1 juz untuk mengkhatamkan Al-Qur’an sekali. Membaca Alquran sebanyak 2 juz perharinya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an 2 kali sebulan. Dan membaca Alquran 3 juz perharinya untuk mengkhatamkan Al-Qur’an 3 kali dalam sebulan.

Masih banyak lagi berbagai metode mengkhatamkan Al-Qur’an yang bagus dan cocok dalam mengkhatamkan Al-Qur’an. Saudara juga bisa menggabungkan beberapa metode untuk memberikan kenyamanan dan kecocokan dalam pelaksanaannya.

Untuk menggunakan metode target ini, saudara bisa bebas membaca Alquran kapanpun dan dimana pun apabila saudara memiliki waktu luang. Atau jika saudara memiliki waktu luang bisa menargetkan harus membaca Alquran sejuz/ 1juz setiap kali membaca Alquran dan tidak akan beranjak sebelum menyelesaikannya.

Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi saudara sekalian dan bisa disebarkan luaskan menjadi amal ibadah kepada Allah SWT. Semoga kita semua mendapatkan syafaat dihari kiamat kelak. Aamiin aamiin yaa rabbal aalamiin.

Tarhib Ramadhan Universitas Darussalam Gontor

Tarhib Ramadhan Universitas Darussalam Gontor

Allah subhanallah telah menciptakan dunia Beserta isinya yang mempunyai keistimewaan tersendiri, Allah SWT telah menciptakan waktu seefisien mungkin untuk dapat melangsungkan kehidupan sehari-hari yang taat. Sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dalam kitabnya :

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Artinya, 1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. (QS. Al-‘Ashr. :1-3)

Diantaranya ialah dalam Sehari ada waktu istimewa yaitu : 5 waktu shalat, dan dalam Seminggu ada hari Jum’at. Dan dalam setahun terdapat bulan Ramadhan yang mana waktu diturunkannya Al-Qur’an, malam tersebut dinamakan sebagai Lailatul Qadar (malam seribu bulan) dan waktunya berada di 10 terakhir bulan Ramadhan.
Puasa adalah suatu ibadah mahdoh, yang di wajibkan bagi seluruh umat muslimin. Bulan Ramadhan merupakan bulan yang ditunggu tunggu umat muslimin, dalam melaksanakan puasa di bulan Ramadhan harus mengetahui rukun dan syarat berpuasa dan tak hanya itu kita juga dianjurkan mengetahui seni berpuasa dengan baik. Acara ini diselenggarakan untuk meningkatkan pengetahuan dan kualitas berpuasa dan merupakan refreshing yang bagus sebelum ramadhan.

Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, akan juga menahan hawa nafsu kita. Puasa harus dimulai dari iman bahwa ini merupakan ibadah yang diperintahkan Allah SWT.
Puasa sendiri memiliki Tingkatkan dalam pelaksanaannya, 1. tingkat puasa Islam,yaitu mereka yang hanya menahan rasa lapar dan hausnya

2. Tingkat puasa iman, yaitu mereka yang melaksanakan rukun, Sunnah dan syarat serta memahami seni puasa)

3. Tingkat puasa Ihsan, yaitu mereka yang melaksanakan puasa dan ibadah lainnya seakan akan dilihat oleh Allah SWT.

Tarawih, qiyamullail, sholat masnunah, Dhuha, itikaf, dzikir pagi petang, dan lainnya merupakan salah satu amalan yang dapat dilakukan ketika bulan Ramadhan dan alangkah indahnya jika dapat dilakukan dibulan lainnya.
Sahur merupakan ibadah yang dianjurkan oleh Baginda Rasulullah SAW sebagai sabda nabi: “Bersahur itu adalah suatu keberkahan, maka janganlah kamu meninggalkannya, walaupun hanya dengan seteguk air, karena Allah dan para malaikat bersalawat atas orang-orang yang bersahur (makan sahur).” (HR Ahmad). Sangat dianjurkan bagi kalian untuk berbuka diawali dengan kurma dan air putih. Juga dianjurkan berbuka dengan yang manis untuk mempermudah percenaan lambung.

Lailatul Qadar mempunyai keistimewaan yaitu, Amalan Sunnah akan dinilai sebagaimana amalan wajib.
Bagi umat muslimin Dianjurkan untuk membayarkan zakat melaui Amil Zakat, untuk mengoptimalkan penyaluran zakat. Zakat apabila dilakukan dengan baik maka akan menjadi perekat umat. Diharapkan untuk membedakan zakat wajib dengan sumbangan, zakat fitrah merupakan penyucian harta benda setelah menyelesaikan puasa ramadhan yaitu sebanyak 3,5L /2,5Kg dan zakat profesi sebanyak 2,5% pertahun.
Zakat pertanian akan dihitung setiap kali diadakan panen.
Seorang anak boleh diwakilkan zakat fitrah oleh orang tuanya apabila masih dalam tanggungan keluarga, dan orang tua diwakilkan oleh anak apabila sudah lemah dan menjadi tanggungan anaknya.

Ketika melangkah kaki ke masjid niatkan dengan niat i’tikaf. Fokuskan pikiran kita dalam ibadah, alihkan perhatian dari dunia. I’tikaf 10 Hari terakhir dimulai sebelum terbit matahari keluar sesudah terbenamnya matahari. Memperbaiki diri dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT

Sholat witir dipertengahan ramadhan disyariatkan untuk membaca qunut. Puasa tidak bisa digantikan apabila batal dengan sengaja, Dan diwajibkan membayar fidyah bilamana batal atau tidak mampu menjalankannya.
I’tikaf tidak ada batasan minimal atau maksimal waktu.
Lailatul Qadar berada di bulan Ramadhan, Lailatul Qadar berada di 10 Hari terakhir bulan Ramadhan, Lailatul Qadar di diperkirakan pada waktu waktu witir.

Dikutip dari kajian Tarhib Ramadhan di Universitas Darussalam Gontor, 12 April 2021

Mengenal Sholat Witir dan 8 Keutamaannya

Mengenal Sholat Witir dan 8 Keutamaannya

السلام عليكم و رحمةالله وبركاته

Apa kalian paham apa itu sholat witir?Apa aja sih keutamaannya?

PENGERTIAN SHALAT WITIR Yang dimaksud dengan shalat Witir, ialah shalat yang dikerjakan antara setelah shalat Isyâ` hingga terbit fajar Subuh sebagai penutup shalat malam. Sholat witir biasa disebut sebagai sholat penutup malam. Hal ini dikarenakan sholat sunnah ini mubah/boleh dilaksanakan setelah sholat isya, kemudian setelah sholat tarawih, dan sebelum sholat subuh. Sholat ini juga biasa dilaksanakan setelah sholat malam.

Memang terdengar cukup berat jika disandingan dengan sholat malam tetapi ketika sudah mengetahui keutamaan sholat witir yang sedemikian hebat, maka melaksanakannya akan membuatmu lebih bersemangat.Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada kita agar menutupi kekurangan shalat fardhu dengan shalat-shalat sunnah dan memerintahkan untuk menjaga dan melaksnakannya secara berkesinambungan. Di antara shalat sunnah yang diperintahkan untuk dilakukan secara terus menerus atau istiqomah, yaitu shalat Witir. Dijelaskan Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam dalam sabdanya:

إِنَّ اللَّهَ زَادَكُمْ صَلَاةً فَحَافِظُوا عَلَيْهَا وَهِيَ الْوَتْرُ أخرجه أحمد

Sesungguhnya Allah telah menambah untuk kalian satu shalat, maka jagalah shalat tersebut. Shalat itu ialah Witir. [HR Ahmad dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Irwa` al-Ghalîl, 2/159]. HUKUM SHALAT WITIR Shalat Witir merupakan shalat sunnah muakkadah menurut mayoritas ulama. Hal ini didasarkan pada beberapa dalil, di antaranya sebagai berikut.

1.Hadits Ibnu Umar yang berbunyi:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؛ قَالَ اجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً. متفق عليه

Dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam , beliau berkata: “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan Witir”. [Muttafaqun ‘alaihi)] Dalam hadits ini menunjukkan adanya perintah menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam. Ibnu Daqîqi al-‘Iid menyatakan, orang yang mewajibkan shalat witir berdalil dengan bentuk perintah (dalam hadits ini). Seandainya berpendapat kewajiban witir dalam akhir shalat malam, maka itu lebih tepat”.

2. Hadits Abu Ayyûb al-Anshâri yang berbunyi: قَالَ رَسُولُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam bersabda: “Shalat Witir wajib bagi setiap muslim. Barang siapa yang ingin berwitir dengan lima rakaat, maka kerjakanlah; yang ingin berwitir tiga rakaat, maka kerjkanlah; dan yang ingin berwitir satu rakaat, maka kerjakanlah!” [HR Abu Dawud, an-Nasâ`i dan Ibnu Mâjah, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abu Dâwud, no. 1421].

WAKTU SHALAT WITIR Para ulama bersepakat, bahwa awal dilaksanakannya waktu shalat Witir adalah setelah shalat Isyâ` hingga terbit fajar Subuh.Imâm Muhammad bin Nashr al-Marwazi (wafat tahun 294 H) mengatakan: “Yang telah disepakati para ulama, bahwasanya waktu shalat Witir ialah antara (setelah) Shalat Isyâ` sampai terbitnya fajar Subuh”. Mereka berselisih pada waktu setelah itu hingga shalat Subuh. Hal ini didasarkan pada banyak hadits, di antaranya sebagai berikut.Hadits ‘Aisyah Rsdhiyallahu anhuma , beliau berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِيمَا بَيْنَ أَنْ يَفْرُغَ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ وَهِيَ الَّتِي يَدْعُو النَّاسُ الْعَتَمَةَ إِلَى الْفَجْرِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُسَلِّمُ بَيْنَ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ وَيُوتِرُ بِوَاحِدَةٍ أخرجه مسلم.

Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam shalat antara setelah selesai shalat Isya`, yaitu yang disebut oleh orang-orang dengan – al-‘atamah – sampai fajar sebelas rakaat dengan salam setiap dua raka’at dan berwitir satu raka’at. [HR Muslim].Adapun akhir waktu shalat Witir jelas ditegaskan juga oleh hadits yang lainnya, yaitu sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam :

صَلاَةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى ، فَإِذَا خَشِىَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ ؛ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوْتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى

Artinya : Shalat malam dua raka’at dua raka’at; apabila salah seorang di antara kalian khawatir Subuh, maka ia shalat satu raka’at sebagai witir bagi shalat yang telah dilaksanakannya. [HR al-Bukhâri dan Muslim].

WAKTU YANG DI UTAMAKAN Pelaksanaan shalat Witir, yang utama dilakukan di akhir shalat malamnya, dengan dasar sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam :

اجْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْراً. متفق عليه

Dari Nabi Shallallahu alaihi wa salllam , beliau berkata: “Jadikanlah akhir shalat kalian di malam hari dengan Witir. [Muttafaqun ‘alaihi]. Sedangkan waktunya tergantung kepada keadaan pelakunya. Yang utama, bagi seseorang yang khawatir tidak bisa bangun pada akhir malam, maka ia mengerjakannya sebelum tidur. Adapun seseorang yang yakin dapat bangun pada akhir malam, maka yang utama dilakukan di akhir malam.

JUMLAH RAKAATNYA Jumlah raka’at dalam shalat Witir boleh dilakukan dengan satu raka’at, tiga raka’at, lima raka’at, tujuh raka’at, sembilan raka’at dan sebelas raka’at; dengan dasar sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam :

الْوِتْرُ حَقٌّ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِخَمْسٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِثَلَاثٍ فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُوتِرَ بِوَاحِدَةٍ فَلْيَفْعَلْ

Shalat Witir wajib bagi setiap muslim. Barang siapa yang ingin berwitir dengan lima raka’at, maka kerjakanlah. Yang ingin berwitir tiga raka’at, maka kerjkanlah; dan yang ingin berwitir satu raka’at, maka kerjakanlah! [HR Abu Dâwud, an-Nasâ`i dan Ibnu Mâjah, dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan Abu Dâwud, no. 1421].

BACAAN KETIKA SHALAT WITIR Dalam melaksanakan shalat Witir, seseorang disyariatkan atau dianjurkan untuk membaca pada: Raka’at pertama membaca syurat al-A’lâ. Raka’at kedua membaca surat al-Kâfirûn. Raka’at ketiga membaca surat al-Ikhlas. Dalil tentang hal ini dijelaskan dalam hadits Ubai bin Ka’ab yang berbunyi:

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ يَقْرَأُ مِنَ الْوِتْرِ بِـ {سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى} ، وَفِيْ الرَّكَعَةِ الثَّانِيَةِ بِـ{قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُوْنَ} ، وَفِيْ الثَّالِثَةِ بِـ {قُلْ هُوَ اللهُ أَحَد}، وَلاَ يُسَلِّمُ إِلَّا فِيْ آخِرِهِنَّ”. أخرجه النسائي.

Dahulu, Rasulullah Shallallahu alaihi wa salllam membaca dari shalat witirnya surat al-A’la, dan pada raka’at kedua membaca surat al-Kaafirun, dan rakaat ketiga membaca Qul Huwallahu Ahad. Beliau tidak salam kecuali di akhirnya. [HR an-Nasâ’i dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahih Sunan an-Nasâ’i, 1/372].

MANFAAT MELAKSANAKAN SHALAT WITIR sebagaimana diketahui bahwa mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW akan mendatang fadhillah yang sangat banyak. Diantaranya :

1.Sebagai Penyempurna Salat Malam

Shalat witir dikenal juga sebagai penutup dari salat malam. Shalat ini baik juga dilaksanakan sebelum tidur atau juga setelah bangun tidur. Tanpa shalat witir maka tidak akan sempurna shalat malam atau qiyamul lail seseorang.Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:

جْعَلُوْا آخِرَ صَلاَتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا

“Jadikanlah akhir salat kalian di malam hari dengan salat Witir”

2. Dicintai oleh Allah SWT

Allah sangat menyukai sesuatu yang ganjil karena Allah adalah satu. Sebagaimana rakaat shalat witir yang ganjil. Dan perlu diketahui juga bahwa salat witir merupakan salah satu ibadah yang dicintai Allah SWT.Sebagaimana yang disebutkan dalam hadIts Rasulullah SAW berikut ini:

نَّ اللهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ، فَأَوْتِرُوْا يَاأَهْلَ الْقُرْآنِ

“Sesungguhnya Allah itu ganjil dan menyukai orang-orang yang melakukan salat Witir, maka salat Witirlah, wahai para ahli Al-Quran.”

3. Lebih utama dari Unta Merah

Hal ini dapat berarti pula bahwa shalat witir yang dikerjakan memiliki nilai lebih besar dari nilai seekor unta merah terutama bila dikerjakan sebelum waktu shalat subuh.Berikut hadits yang menyebutkan keutamaan tersebut:

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ الطَّيَالِسِيُّ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَاشِدٍ الزَّوْفِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُرَّةَ الزَّوْفِيِّ عَنْ خَارِجَةَ بْنِ حُذَافَةَ قَالَ أَبُو الْوَلِيدِ الْعَدَوِيُّ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ أَمَدَّكُمْ بِصَلَاةٍ وَهِيَ خَيْرٌ لَكُمْ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ وَهِيَ الْوِتْرُ فَجَعَلَهَا لَكُمْ فِيمَا بَيْنَ الْعِشَاءِ إِلَى طُلُوعِ الْفَجْرِ

Telah menceritakan kepada Kami [Abul Walid Ath Thayalisi] dan [Qutaibah bin Sa’id] dari [Kharijah bin Hudzafah], Abu Al Walid Al Adawi berkata: Rasulullah shallallahu wa’alaihi wa sallam keluar menemui Kami dan berkata: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan bagi kalian sebuah salat yang dia lebih baik bagi kalian dari pada unta merah, yaitu salat witir, dan telah menjadikannya berada di antara salat Isya hingga terbit fajar.” (HR Abu dawud)

4. Mustajab Doanya

Waktu melaksanakan shalat witir merupakan waktu yang tepat untuk berdoa. Dan merupakan waktu yang membuat setiap hamba amat dekat dengan Allah SWT. Doa yang dipanjatkan setelah shalat witir bisa jadi merupakan salah satu doa yang akan diijabah oleh Allah SWT.

5. Didoakan oleh para Malaikat

Shalat witir yang dilaksanakan pada penghujung malam akan disaksikan oleh malaikat. Mereka akan ikut mendoakan kita kepada Allah SWT dan keberkahan akan menyertai siapa saja yang melaksanakan shalat witir ini.

6. Amalan yang Selalu dikerjakan Rasulullah SAW

Ada tiga perkara yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah SAW dalam hidupnya yakni berpuasa selama tiga hari setiap bulan, mendirikan shalat duha dan melaksanakan salat witir. Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan shalat witir dan apabila ia meninggalkannya, beliau akan mengqadha shalat witir yang ditinggalkannya tersebut.

7. Diberi hidayah dan Keselamatan Allah SWT

Orang yang melaksanakan salat witir akan semakin kuat dalam menghadapi cobaan dunia dan doanya akan selalu didengar oleh Allah SWT. Petunjuk akan selalu menyertai mereka yang menjalankan perintah serta melakukan apa yang Allah SWT cintai. Pada saat shalat witir, ada doa qunut yang bisa dibaca sebagai permohonan petunjuk dan keselamatan kepada Allah SWT.

8. Amalan Para Ahli Al-Quran

Para ahli Al-Quran dari kalangan sahabat adalah mereka yang hafal Al-Quran dan sangat berkomitmen untuk mengamalkan serta mendakwahkannya. Mereka merupakan sahabat-sahabat yang paling utama. Dan salah satu amalan yang diperintahkan Rasulullah SAW kepada mereka adalah shalat witir. Tujuannya agar mereka semakin dicintai Allah SWT.“Sesungghnya Allah itu witir, mencintai witir, maka lakukanlah salat witir wahai ahli Al-Quran.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah; shahih)

Diwasiatkan Dikerjakan Setiap HariDari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:“Kekasihku (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam mewasiatkan kepadaku tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, salat duha dua rakaat dan salat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari dan Muslim)Semoga bermanfaat dan dapat mengamalkan ilmunya

والسلام عليكم ورحمة الله وبركات

Penulis : Muhammad Habil Likai Tanjua / Manajemen 6

Referensi: https://almanhaj.or.id/2456-shalat-witir.html

Dzikir Sang Penggugur Dosa

Dzikir  Sang Penggugur Dosa

السلام عليكم و رحمةالله وبركاته

Marilah kita panjatkan puja puji dan senantiasa bertakwa kepada Allâh Azza wa Jalla dengan sebenar-benar takwa, karena takwa merupakan cahaya hidayah. Amal ma’ruf nahi mungkar merupakan perintah untuk menyeru kebajikan dan mencegah kemungkaran. Barangsiapa taat kepada-Nya maka Allâh menjanjikan untuknya surga. Sebaliknya, barangsiapa bermaksiat dan enggan melaksanakan perintah-Nya maka dia akan terancam adzab yang sangat pedih. Manusia bisa disebut tempat salah dan lupa, siapapun orangnya pasti tidak akan luput dari perbuatan dosa. Dosa-dosa yang dilakukan para hamba itu sangat banyak serta variasi, ada dosa besar seperti dosa syirik maupun dosa dosa kecil bahkan dosa yang tidak kita sadari. Tentang ini dosa ini, Allâh Azza wa Jalla memberikan peringatan keras :

 إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni (dosa) karena melakukan perbuatan syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa menyekutukan Allâh, maka sungguh dia telah melakukan dosa besar” [an-Nisa’/4:48]

PENGERTIAN DZIKIR

Arti kata dzikir dari segi bahasa, dzikir berasal dari kata dzakara, yadzkuru, dzukr/dzikr yang artinya merupakan perbuatan dengan lisan (menyebut, menuturkan, mengatakan) dan dengan hati (mengingat dan menyebut). Sebagian ada yang berpendapat bahwa dzukr (bidlammi) saja, yang dapat diartikan pekerjaan hati dan lisan, sedangkan dzkir (bilkasri) dapat diartikan khusus pekerjaan lisan. Menurut peristilahan, dzikir tidak terlalu jauh pengertiannya dengan makna-makna lughawinya semula. Seperti yang diterangkan  di dalam kamus modern seperti al-Munawir, al-Munjid, dan lainnya, menggunakan istilah pengertian-pengertian seperti adz-dzikr dengan arti bertasbih, mengagungkan Allah SWT. dan seterusnya

BENTUK BENTUK DZIKIR

Bentuk-Bentuk Dzikir menurut Ibnu Ata‟, seorang sufi yang menulis al-Hikam (Kata-Kata Hikmah) membagi dzikir atas tiga bagian, yaitu : zikir jali (dzikir jelas, nyata), dzikir khafi (dzikir samar-samar) dan dzikir haqiqi (dzikir sebenar-benarnya).

 a. Dzikir Jali merupakan suatu perbuatan mengingat Allah SWT. dalam bentuk ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur dan doa kepada Allah SWT. yang lebih menampakkan suara yang jelas untuk menuntun gerak hati. Mula-mula dzikir ini diucapkan secara lisan, mungkin tanpa dibarengi ingatan hati. Hal ini biasanya dilakukan orang kebanyakan. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong agar hatinya hadir menyertai ucapan lisan itu.

 b. Dzikir Khafi merupakan dzikir yang dilakukan secara khusyuk dan khidmat oleh ingatan hati, baik disertai dzikir lisan ataupun tidak. Seseorang yang sudah mampu melakukan dzikir seperti ini merasa dalam hatinya akan senantiasa memiliki hubungan dengan Allah SWT. Ia selalu merasakan kehadiran Allah SWT. kapan dan dimana saja.

c. Dzikir Haqiqi merupakan dzikir yang dilakukan dengan seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah, kapan dan dimana saja, dengan memperkokoh upaya memelihara seluruh jiwa raga dari larangan Allah SWT. dan mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya. Selain itu tiada yang diingat selain Allah SWT. Untuk mencapai tingkatan dzikir haqiqi ini perlu dijalani latihan mulai dari tingkat dzikir jali dan dzikir khafi.

Berikut ini merupakan dzikir-dzikir penghapus dosa

  1. Istighfar

Istighfar artinya ucapan

أَسْتَغْفِرُ اللهَ

“Aku memohon ampun kepada Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا ابْنَ آدَمَ لَوْ بَلَغَتْ ذُنُوبُكَ عَنَانَ السَّمَاءِ ، ثُمَّ اسْتَغفَرْتَنِيْ ، غَفَرْتُ لَكَ

Wahai anak adam seandainya dosamu menjulang tinggi ke langit, lalu engkau banyak istighfar dan banyak memohon ampun kepadaku maka aku ampuni dosa-dosamu. (HR. Tirmidzi, dihasankan al-Albani dalam as-Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 127)

Tahlil artinya ucapan:

2. Bertahlil

لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ قَالَ لا إلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَريكَ لَهُ ، لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ؛ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ، في يَوْمٍ مِئَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وكُتِبَتْ لَهُ مِئَةُ حَسَنَةٍ ، وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِئَةُ سَيِّئَةٍ ، وَكَانَتْ لَهُ حِرْزاً مِنَ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِي ، وَلَمْ يَأتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلاَّ رَجُلٌ عَمِلَ أكْثَرَ مِنْهُ

Barangsiapa mengucapkan ‘La ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir‘ seratus kali akan memperoleh ganjaran sebagaimana membebaskan sepuluh budak, dan seratus kebaikan akan dicatatkan atasnya, dan seratus dosa akan dihapuskan dari catatan amalnya, dan ucapan tadi akan menjadi perisai baginya dari Syaithan pada hari itu hingga malam hari, dan tak ada seorangpun yang bisa mengalahkan amal kebaikannya kecuali orang yang melakukan amal yang lebih baik darinya.” (HR. Bukhari)

3. Bertasbih

Tasbih artinya ucapan:

سُبْحَانَ الله

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيَعْجِزُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَكْسِبَ، كُلَّ يَوْمٍ أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ فَسَأَلَهُ سَائِلٌ مِنْ جُلَسَائِهِ: كَيْفَ يَكْسِبُ أَحَدُنَا أَلْفَ حَسَنَةٍ؟ قَالَ: يُسَبِّحُ مِائَةَ تَسْبِيْحَةٍ، فَيُكْتَبُ لَهُ أَلْفُ حَسَنَةٍ، أَوْ يُحَطُّ عَنْهُ أَلْفُ خَطِيْئَةٍ

Apakah salah seorang di antara kalian tidak mampu mengusahakan seribu kebajikan setiap hari? Ada di antara sahabat yang hadir bertanya kepada beliau: ‘Bagaimana mungkin ada di antara kita yang mampu mengusahakan seribu kebajikan?’ Beliau bersabda: “Ia bertasbih seratus kali, akan dituliskan baginya pahala seribu kebajikan atau dihapuskan darinya seribu keburukan.” (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

Barang siapa membaca ‘subhanallahi wabihamdihi’ (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya) seratus kali dalam sehari, maka dosanya akan dihapus, meskipun sebanyak buih lautan.” (HR. Muslim).

4. Berdzikir setelah shalat

Ada dzikir setelah shalat yang juga menghapus dosa sebanyak buih di lautan, yang dibaca setelah selesai shalat fardhu. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ سَبَّحَ اللهَ في دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاثاً وَثَلاثِينَ ، وحَمِدَ اللهَ ثَلاثاً وَثَلاَثِينَ ، وَ

كَبَّرَ الله ثَلاثاً وَثَلاَثِينَ ، وقال تَمَامَ المِئَةِ : لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ ،غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْر

Barangsiapa mengucapkan tasbih (mengucapkan ‘subhanallah’) di setiap akhir shalat sebanyak 33 kali, mengucapkan hamdalah (mengucapan ‘alhamdulillah’) sebanyak 33 kali, bertakbir (mengucapkan ‘Allahu Akbar’) sebanyak 33 kali lalu sebagai penyempurna (bilangan) seratus ia mengucapkan ‘la ilaha illallahu wahdahu la syarikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir (tiada Tuhan yang berhak disembah dengan haq selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya segala puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu)’, maka akan diampuni dosa-dosanya sekalipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Muslim)

5. Berdzikir ketika akan tidur

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَالَ حِينَ يَأْوِيْ إِلىَ فِرَاشِهِ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَحْدَه ُلَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ، سُبْحَانَ اللهِ، وَالحَمْدُ للهِ ، وَلَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ، وَاللهُ أَكْبَرُ. غُفِرَتْ لَهُ ذُنُوْبُهُ – أَوْ قَالَ: خَطَايَاه، شكَّ مِسْعَرٌ – وَإِن ْكَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ البَحْر)

Apabila seorang dari kalian menuju kasurnya, dan mengucapkan ‘la ilaha illallah wahdahu la syarikalahu lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodir’, subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah wallahu akbar’, maka Allah ampuni dosa-dosanya meski sebanyak buih lautan di dunia ini.” (HR. Ibnu Hibban, Ibnus Sunni dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah, dishahihkan al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah no. 3414)

5 Keutamaan Dzikir menurut Saiful Ghofur dalam karyanya Rahasia dzikir dan doa, diantaranya ialah:

a. Terlindung dari bahaya godaan setan Setan tak pernah berhenti untuk menggelincirkan manusia dari rida Allah. segala bentuk godaan akan diumpamakan kepada manusia agar lalai dan terlena. Karena itu, dengan berdzikir kita memohon kepada Allah supaya terlindung dari godaan setan yang terkutuk.

 b. Tidak mudah menyerah dan putus asa Hidup di dunia tak jarang penuh dengan permasalahan. Adanya permasalahan ini sejatinya untuk menguji sejauh mana tingkat keimanan seseorang. Bagi yang tidak kuat menanggung permasalahan tersebut, acap kali cenderung berputus asa. Padahal, berputus asa adalah perbuatan yang dilarang oleh Islam.

 c. Memberi ketenangan jiwa dan hati Segala gundah dan resah bersumber dari bagaimana hati menyikapi kenyataan. Jika hati lemah dan tak kuat menanggung beban hidup, besar kemungkinan yang muncul adalah suasana resah dan gelisah. Artinya, tidak tenang. Ketidaktenangan juga bisa timbul akibat perbuatan dosa. Hati ibarat cermin dan dosa adalah debu. Semakin sering berbuat dosa, semakin memupuk debu yang mengotori cermin. Karena itu, untuk meraih ketenangan jiwa dan hati kita dianjurkan untuk memperbanyak zikir.

 d. Mendapatkan cinta dan kasih sayang Allah Allah memiliki sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Kedua ini berasal dari suku kata ar-rahmah yang berarti kasih sayang. Kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya begitu luas. Oleh sebab itu, kasih sayang Allah harus kita raih dengan memperbanyak zikir.

e. Tidak mudah terpengaruh dengan kenikmatan dunia yang melenakan Hidup di dunia hanya sementara. Begitu pun segala hal yang diraih dalam kehidupan dunia.

Semoga bermanfaat dan dapat mengamalkan ilmunya…

والسلام عليكم ورحمة الله وبركات

Tata Cara Sholat Taubat Dengan Benar

Tata Cara Sholat Taubat Dengan Benar

TATA CARA SHOLAT TAUBAT YANG BENAR

Apakah saudara merasakan bahwa saudara telah melakukan perbuatan yang kurang baik?

Apakah saudara diganggu oleh rasa bersalah pada Allah SWT?

Apakah saudara merasa bahwa kesalahan yang saudara lakukan tidak akan diampuni?

Apakah saudara menyesali perbuatan dan berkomitmen tidak akan mengulangi kesalahan tersebut?

Salah satu cara untuk menggugurkan dosa yang telah kita lakukan menurut anjuran dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah Muhammad SAW adalah dengan melaksanakan sholat taubat. Taubat adalah kembali kepada Allah, kembali pada syariat-Nya, mengakui segala bentuk kesalahannya dan menyesalinya, serta berjanji tidak akan mengulanginya kembali. Sedangkan sholat taubat merupakan cara untuk meraih ampunan atas dosa atau kesalahan yang telah kita perbuat dan salah satu amal yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah SWT.

Sholat taubat nasuha adalah tobat yang  diniatkan dengan semurni-murninya serta berkomitmen penuh untuk tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Hal ini untuk menunjukkan ketulusan dan kesungguhan kita dalam  memohon ampunan dari Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan-kesalahan yang diperbuat. Sebagai mana difirmankan  dalam surat At-Tahrim ayat 8, yang berbunyi “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.”

Sholat taubat juga disebut dengan sholat istighfar atau sholat minta ampun. Ketika sudah menjalankan sholat taubat yang benar, maka seorang Muslim seharusnya tidak akan lagi mengulangi kembali maksiat atau dosa yang lalu. Allah SWT sangat menyukai umat Muslim yang benar-benar bertaubat (taubatan nasuha) dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Seperti yang difirmankan dalam Al-Baqarah 2:22 yang berbunyi  “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Dari ayat-ayat ini bisa disimpulkan bahwa sebaik-baiknya manusia di hadapan Allah bukan mereka yang tidak pernah berbuat salah, tapi bila mana orang tersebut berbuat kesalahan langsung bertaubat kepada-Nya. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia pasti pernah melakukan kesalahan, hal itu merupakan manusiawi bagi mereka yang mengakai kesalahannya dan meminta maaf atas kelasahan tersebut serta mereka yang berusaha untuk tidak akan mengulangi kesalahan tersebut. Bukan bagi mereka yang mengulangi kesalahan yang sama secara terus menerus tanpa berusaha untuk menghindari atau memperbaiki kesalahan tersebut.

Alangkah baiknya bila bertaubat tidak ditunda tunda. Dianjurkan bagi kita untuk langsung bertaubat Ketika kita merasa bahwa telah melakukan kesalahan dan memohon ampun kepada Allah SWT atas apa yang telah dilakukan. Menurut anjuran para Ulama bahwa melaksanakan sholat taubat nasuha pada malam hari. Sholat taubat nasuha sebaiknya dikerjakan secara sendirian. . Sholat taubat merupakan sholat nafilah yang tidak disyariatkan untuk dikerjakan secara berjamaah.

Tata cara sholat taubat nasuha sama seperti sholat sunnah lainnya. Sholat taubat nasuha dilakukan dua rakaat dengan sekali salam. Namun ada waktu pelaksanaan sholat taubat yang haram untuk dikerjakan seperti:

1. Sejak terbit fajar  hingga terbitnya matahari.

2. Ketika matahari terbit sampai matahari naik sepenggalah.

3. Ketika matahari tepat berada ditengah-tengah sampai terlihat condong.

4. Sejak selepas sholat Ashar sampai menjelang matahari tenggelam.

5. Ketika matahari tenggelam sampai matahari benar-benar sempurna tenggelam.

Sementara itu, sebagian ulama berpendapat bahwa waktu pelaksanaan sholat taubat yang utama adalah di sepertiga malam dilanjutkan dengan sholat tahajjud dan berdoa di sepertiga malam.

Niat mengerjakan Sholat Taubat Nasuha

Niat sholat taubat nasuha  menghadirkan keinginan untuk taubat kuat atas berbagai kesalahan terlebih dahulu. Kemudian dilanjutkan dengan berwudhu dan melaksanakan sholat 2 rakaat. Namun untuk menegaskan kembali, bisa di lafazkan dengan lafaz yang telah diajarkan oleh para ulama, dengan membaca niat seperti:

Ushalli Sunnatat Taubata Rak’ataini Lillahi Ta’ala

Artinya: Saya niat shalat sunnah taubat dua rakaat karena Allah.

Panduan tata cara sholat taubat yang benar sebagai berikut :

1. bersuci atau wudhu

2. Mengucapkan niat sholat taubat nasuha.

3. Melakukan Takbiratul ihram.

4. Membaca doa iftitah (Allahu akbar kabiiro…).

5. Melanjutkan membaca surat Al-Fatihah.

6. Membaca surat surat pilihan.

7. Rukuk.

8. I’tidal.

9. Sujud.

10. Duduk diantara dua sujud (duduk iftiros)

11. Sujud kedua.

12. Bangun melanjutkan rakaat yang kedua mengikuti urutan diatas sampai yang ke 10.

13. Tasyahud akhir.

14. Salam.

15. Beristighfar dan berdoa memohon ampunan.

Setelah melaksanakan sholat taubat nasuha, dianjurkan memperbanyak baca istighfar yang dimaksudkan untuk memohon ampunan Allah SWT.  Istighfar yang utama yaitu Sayyidul istighfar, Bacaan istighfar setelah sholat taubat nasuha ialah

 astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaihi

Artinya: Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada Tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.

Dilanjutkan  membaca doa sholat taubat atau sayyidul istighfar seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW berikut ini:

Allahumma Anta Robbii Laa Ilaaha Illaa Anta, Kholaqtanii Wa Ana ‘Abduka Wa Ana ‘Ala ‘Ahdika Wa Wa’dika Mastatho’tu. A’udzu Bika Min Syarri Maa Shona’tu, Abuu-U Laka Bini’matika ‘Alayya, Wa Abuu-U Bi Dzanbii, Faghfirlii Fainnahuua Laa Yaghfirudz Dzunuuba Illa Anta.

Artinya:

“Ya Allah, Engkaulah Tuhan kami, tiada Tuhan melainkan Engkau yang telah menciptakan aku, dan akulah hamba-Mu. Dan aku pun dalam ketentuan serta janji-Mu yg sedapat mungkin aku lakukan. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan yg telah aku lakukan, aku mengakui nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku, dan aku mengakui dosaku, karena itu berilah ampunan kepadaku, sebab tiada yg dapat memberi ampunan kecuali Engkau sendiri. Aku memohon perlindungan Engkau dari segala kejahatan yg telah aku lakukan.”

Tips mengendalikan Amarah

Tips mengendalikan Amarah

Apa yang disebut dengan Amarah? Amarah adalah salah satu emosi yang merupakan suatu sikap emosional yang berdampak negative. Emosi merupakan luapan perasaan yang dirasakan dan diekspresikan dalam tingkah laku. Sebuah emosi dapat berupa perasaan senang, marah, takut, sedih dan kaget terhadap sesuatu. Kita semua tentu pernah mengalamai itu.

Kemarahan merupakan sengketa jiwa yang timbul disebabkan oleh penolakan atas  apa yang tidak diinginkan, bersikeras akan keyakinannya dengan pendapat tertentu atau kejadian tertentu tanpa melihat kesalahan atau kebenarannya. Kemarahan dapat mengakibatkan perbuatan yang buruk dan hasil yang buruk pula. Karena marah, seseorang dapat dengan mudah menghina, mengucapkan kalimat buruk, memutuskan tali silaturahim, bahkan dapat menimbulkan peperangan antar sesama juga pembunuhan.

Ahli medis menjelaskan bahwa kemarahan memberikan dampak buruk pada jantung. ketika marah, terjadi perubahan fisiologis seperti meningkatnya hormon adrenalin yang akan memengaruhi kecepatan detak jantung dan menambah penggunaan oksigen. Hasil penelitian modern menyimpulkan bahwa kemarahan berulang-ulang bisa memperpendek umur karena diserang berbagai penyakit kejiwaan dan penyakit jasmani. Dan menurut islam sendiri kemarahan dapat menjauhkan kita dari petunjuk dan pertolongan Allah SWT. Seperti firman Allah SWT ‘’Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agar mereka mendapatkan petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada yang disesatkan-Nya, dan mereka tidak mempunyai penolong.’’(QS. An-Nahl [16] : 37).  Di sini letak urgensinya larangan marah.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk mengendalikan amarah, berikut adalah tips untuk mengendalikan amarah:

1. Mengucapkan Kalimat Ta’awudz.

Dari sahabat Sulaiman bin Surd, beliau menceritakan, “Suatu hari saya duduk bersama Rasulullah SAW. Ketika itu ada dua orang yang saling memaki. Salah satunya telah merah wajahnya dan urat lehernya memuncak. Kemudian Rasulullah bersabda: “Sungguh saya mengetahui ada satu kalimat, jika dibaca oleh orang ini, marahnya akan hilang. Jika dia membaca ta’awudz: A-‘uudzu billahi minas syaithanir rajiim, marahnya akan hilang”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

2. Menjaga perkataan

Dalam keadaan marah, seseorang dapat kehilangan control atas dirinya. Hal itu dapat menimbulkan banyak perbuatan buruk terutama perkataan, maka sebaiknya berusaha diam serta menahan meluapkan emosi. Dari Ibnu Abbas Ra, Rasulullah Saw. bersabda: “Jika kalian marah, diamlah.” (HR. Ahmad).

3. Mengucapkan Istighfar dan berdzikir

Istighfar meru[akan amalan penenang hati dan pikiran. Menurut ulama untuk mengendalikan amarah dengan cara beristighfar dan berdzikir meminta ampunan atas dosa dan kesalahan yang telah diperbuat dan menjauhkan dari perbuatan buruk.

4. mengubah posisi

Rasulullah bersabda: “Apabila kalian marah, dan dia dalam posisi berdiri, hendaknya dia duduk. Karena dengan itu marahnya bisa hilang. Jika belum juga hilang, hendak dia mengambil posisi tidur.” (HR. Ahmad, Abu Daud dan perawinya dinilai shahih oleh Syuaib Al-Arnauth).

4. Mengingat keuntungan sabar

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Siapa yang berusaha menahan amarahnya, padahal dia mampu meluapkannya, maka dia akan Allah panggil di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, sampai Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang dia kehendaki.” (HR. Abu Daud, Turmudzi)

5. Berpikir Positif / positive thingking

Selalu berpikir dapat memberikan hasil yang positif. segala kejadian yang kita alami dapat memberikan kita sebuah pelajaran yang beharga, berpikirlah bahwa yang terjadi pada diri kita merupakan yang terbaik. Seperti firman Allah SWT ‘’Diwajibkan atas kamu berperang, padahal itu tidak menyenangkan bagimu. Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui , sedang kamu tidak mengetahui.’’ (QS. Al Baqarah [2] : 216). 

semoga kita selalu berada dalam naungannya dan dijaga oleh Allah Subhanallah Wa Taala…..Aamiin

Translate »