Kali ini, pembicara dalam sesi renungan adalah Dr Hartomi dari prodi Manajemen. Tentang ribā. Beliau mendasari argumennya pada surat Āli Imrān ayat 130 dan al Baqarah 274-280.

Ribā memiliki dua jenis. Fadhl dan Nasīah. Yang pertama, adalah tentang tukar menukar yang tidak sepadan. Misalnya, penukaran garam biasa dengan garam beryodium. Ribā jenis kedua, pada ‘bunga’ (interest) di peminjaman uang. Keduanya akan merugikan. Dan tidak adil. Karena tidak ada kebersamaan dalam menanggung kerugian (risk sharing).

Bank, sebagai pemberi pinjaman; tidak ingin menanggung resiko kerugian berdagang. Karena bank hanya menginginkan dananya kembali. Ditambah bunga. Sehingga, pengusaha kecil lebih kesulitan dalam mendapat dana. Karena, bank lebih percaya pada pemilik jaminan yang besar. Yaitu perusahaan besar. Padahal, perusahaan besar tidak pasti untung.

Konsepsi keuangan dan ekonomi; berbasis kerjasama (ta’āwun), persaudaraan (ukhuwwah), dan taqwā. Keuntungan bagi pemberi pinjaman, adalah mendapatkan rekan kerja, kepercayaan, dan membantu orang lain. Peminjam boleh mengembalikan dana pinjaman dengan lebih banyak. Dengan sukarela. Sebagai hadiah; bukan karena keterikatan bunga.

Bukan hanya jual beli (bay’); dalam keuangan Islam juga dikenal mudhārabah, musyārakah, murābahah, ijārah, salām, dan lainnya. Keuntungannya disebut profit sharing; yang juga berdampingan dengan risk sharing. Juga dengan akad di awal proyek. Bank Islam bertindak sebagai mediator. Antara pemilik modal dan pemilik ketrampilan yang akan membuka usaha, namun membutuhkan modal.

Penulis :M. Taqiyuddin, M.Ag. Dosen Prodi Bahasa Arab(PBA UNIDA)

link PBA :http://pba.unida.gontor.ac.id/

Editor : Dhika Amalia K

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.